Kamis, 08 Januari 2015

Green Tea Everywhere


Green tea yakult

Pertama kali saya suka green tea ketika sedang kerja praktek. Waktu itu saya dikasih permen oleh Carin, temen saya. Awalnya saya tidak tahu kalo permen yang dia kasih itu green tea, soalnya dia nyebutnya matcha (maklum, saat itu saya cupu dengan nama itu). Setelah saya makan rasanya familiar, yup! Tidak salah lagi, ini adalah teh hijau dengan campuran susu.

Saya lumayan sering minum teh hijau karena stok di rumah banyak. Menurut sumber-sumber yang saya baca, teh hijau banyak khasiatnya. Beberapa penelitian ilmiah di seluruh dunia menemukan bahwa yang minum teh hijau secara teratur lebih rendah memiliki resiko menderita sakit jantung dan bahkan kanker. Dibandingkan dengan teh biasa, teh hijau memiliki lebih sedikit kafein. Selain itu teh hijau lebih tinggi mengandung flavonoid (fitokimia yang ditemukan dalam produk tanaman) yang memiliki sifat  antioksidatif dan anti karsinogenik.

Teh hijau memiliki rasa asli yang khas, mungkin sebagian orang tidak begitu suka dengan rasa asli teh hijau.  Namun saat ini, dengan banyaknya variasi teh hijau membuat teh hijau makin lezat dinikmati, baik dalam keadaan hangat maupun dingin. Teh hijau pun saat ini tidak sulit dijumpai karena sudah tersedia dalam menu disebagian besar kafe-kafe maupun restoran.

Banyak varian teh hijau saat ini, khususnya untuk dinikmati anak muda yang hobi kongkow. Varian tersebut mulai dari green tea milkshake, green tea ice blended, green tea yakult, green tea latte, green tea ice cream, dan lain-lain. Kalau saya pribadi lebih suka green tea yakult, soalnya ada campuran susu dan yakultnya. Bikin lidah asem-manis, yuk dicoba! hehe

Oh ya, kalo mau bikin sendiri teh hijau original, supaya hasilnya maksimal disarankan untuk menyeduh teh, daripada menggunakan kantong teh. Hal ini dapat menambah rasa nikmat teh tersebut.(kur)

Senin, 05 Januari 2015

Perahu Ketek



Kalau ada waktu liburan di Kota Palembang, sempatkanlah untuk naik Perahu Ketek. Sebenarnya Perahu Ketek adalah perahu motor, karena bunyinya “teketeketeketek” jadilah namanya Perahu Ketek. Perahu Ketek bisa anda jumpai di Benteng Kuto Besak Palembang. Tak perlu anda mencari perahunya, cukup mendekat ke dermaga dan sopir Perahu Ketek pun akan segera menghampiri anda. Satu perahu ketek ukuran sedang dapat menampung hingga 20 orang, tapi saran saya demi keamanan maksimal 15 orang saja per perahu.

Kapal Ketek yang melayani wisatawan biasanya beroperasi dari pukul 7 pagi hingga pukul 10 malam. Tarifnya menyesuaikan kemana tujuan kita. Untuk pergi ke Pulau Kemarau, biasanya sopir ketek menawarkan harga 250 ribu rupiah (PP). Namun harga tersebut masih bisa ditawar. Berdasarkan pengalaman saya, harga ketek untuk ke Pulau Kemarau bisa ditawar hingga 90 ribu saja (harga solar waktu itu 5.500 rupiah) dan bisa lebih murah. Kalo sopirnya tidak mau, masih banyak sopir lain yang menanti tawaran kita.hehe dan kalaupun anda tidak berkeberatan membayar sesuai dengan yang ditawarkan sopir ketek, tidak masalah.

Jika anda hanya ingin sekedar melihat Jembatan Ampera dari sungai, berkeliling Sungai Musi saja, ataupun berfoto dari Sungai Musi, anda bisa menawar harga hingga 30 ribu.

Ketika anda sedang naik ketek, disarankan untuk duduk dan tidak berdiri, karena apabila ketek sedang berpapasan dengan kapal lain yang berkecepatan tinggi, ketek akan goyang terkena ombak. Namun menurut saya, para sopir Perahu Ketek di Palembang sudah berpengalaman sehingga mereka tahu teknik untuk mengurangi benturan ombak. Tapi tetap harus berhati-hati yaa…(kur)

Minggu, 04 Januari 2015

Pakaian Adat Batak Toba

Fotografer: Gio

Tahun lalu saya sempat jalan-jalan ke Pulau Samosir, Sumatera Utara. Perjalanan kali ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional yang saya ikuti di Universitas Negeri Medan. Disana saya menyempatkan diri untuk mampir ke Museum Batak. Museum Batak sendiri terletak di ujung jalan tempat wisata Pulau Samosir. Kalau kita turun dari kapal, kita tinggal menyusuri saja jalan  hingga ke ujung untuk sampai ke Museum Batak.

Di Museum Batak, terdapat banyak sekali barang-barang khas adat Batak, disana kita dapat melihat dan mengenal secara langsung barang-barang tersebut. Jika kita ingin tahu fungsi dan cara penggunaannya, petugas museum siap membantu.

Salah satu contohnya adalah pakaian adat Batak Toba, seperti yang saya gunakan pada foto di atas. Kain yang digunakan pada pakaian tersebut adalah Ulos. Di Museum Batak kita bisa memakai dan berfoto dengan menggunakan pakaian adat Batak Toba, tersedia juga pakaian untuk wanita. Kita hanya diwajibkan menyumbang untuk museum sebesar 10 ribu rupiah saja.

Ulos merupakan pakaian adat dari Sumatera Utara. Berdasarkan sumber referensi yang saya baca, Ulos adalah kain tenun khas Batak, yang secara harfiah berati selimut yang menghangatkan tubuh; melindungi dari terpaan udara dingin. Ulos bisa merankan berbagai fungsi sandang, sebagai selendang, sarung, penutup kepala, dan lain sebagainya.

Ulos dapat dikenakan dalam berbagai bentuk, dari mulai sebagai kain penutup kepala, penutup badan bagian bawah, penutup badan bagian atas, penutup punggung dan lain sebagainya.

Ulos penutup kepala pada masyarakat Batak Toba dikenal dengan sebutan Sortali.  Sortali itu sendiri adalah ikat kepala yang fungsinya seperti mahkota. Biasanya dibuat dari bahan tembaga yang disepuh dengan emas, lalu dibungkus dengan kain merah. Sortali ini digunakan pada pesta-pesta besar. Sortali digunakan laki-laki dan perempuan. Akan tetapi sama seperti ulos, penggunaan sortali tidak sembarangan dan memiliki aturan sendiri.

Bagi kalian yang akan berkunjung ke Pulau Samosir, jangan lupa mampir ke Museum Batak yaa, untuk lebih mengenal adat dan kebudayaan disana.(kur)